Selasa, 28 April 2015

Menikmati Keindahan Alam dari Puncak Gunung Batu

Ada yang tau Gunung Batu itu dimana? mungkin sebagian warga Bogor akan menjawab gunung batu adalah nama suatu daerah yang terletak tak jauh dari stasiun Kota Bogor.
eitsss, tapi gunung batu yang saya maksud bukan itu yaa..


Foto bersama kawan-kawan dengan background Gunung Batu.

Gunung Batu merupakan sebuah bukit dengan ketinggian 875 mdpl yang terletak di desa Suka Makmur, Jonggol - Jawa Barat. Nah kali ini saya akan berbagi cerita pengalaman kedua saya mendaki gunung, eh bukit deh.. hehehe..

Hari itu, langit cukup cerah. Saya bersama kawan-kawan dari komunitas Peduli Pendidikan Puzzle Summit dan Rain Heart memulai perjalanan pukul 08.00 WIB menuju lokasi dengan starting point dari kawasan Plaza Jambu Dua Bogor dengan mengendarai motor. Berdasarkan saran dan informasi yang kami dapat dari sejumlah orang yang sudah berpengalaman ke lokasi ini, medan yang akan dilalui cukup berat karena akan melewati jalan bebatuan, jadi dibutuhkan kendaraan pribadi yang prima untuk bisa sampai di lokasi.

Akhirnya setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, kami tiba di Gapura kawasan Gunung Batu pada pukul 10.00 WIB. Setelah beristirahat selama 15 menit, kami memulai trekking menuju puncak gunung batu. Saat di perjalanan, salah satu kawan dalam rombongan kami meminta untuk berhenti sejenak.. yaps, ibu perawat Yani Jayani ternyata mengeluhkan kakinya terasa sakit karena masih dalam proses pemulihan pasca operasi kecil.. dengan bantuan dari kawan-kawan akademi keperawatan, Alhamdulillah luka kawan saya bisa diatasi dan kami pun dapat melanjutkan perjalanan.




Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan seorang penggembala kerbau yang sedang menggembalakan kerbau-kerbaunya. Pemandangan yang tidak akan pernah kami dapatkan di perkotaan.




Setelah beberapa menit kami berjalan, tibalah kami di papan penunjuk jalan menuju puncak Gunung Batu. Kami semakin bersemangat untuk terus berjuang menuju puncak..



Di tengah perjalanan, kejadian saat saya mendaki bukit Rong Salatiga terulang kembali, saya mulai merasa lelah, kepala saya pusing dan perut terasa mual.. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu kondisi saya membaik. Alhamdulillah, 15 menit kami istirahat saya sudah bisa kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Batu.


Selfie adalah suntikan kekuatan bagi wanita untuk bisa melanjutkan perjalanan hehe..

Awalnya saya tidak yakin ketika melihat dari bawah bisa sampai ke puncak, tapi semangat dari dalam diri dan tentu didukung oleh kawan-kawan satu team, akhirnya puncak Gunung Batu sudah mulai terlihat. Saya semakin bersemangat..

Perjuangan menuju puncak Gunung Batu dengan melewati jalan berbatu dan terjal serta jurang di kiri dan kanan.

Dan saya kembali tidak yakin ketika melihat tebing yang harus saya lalui cukup tinggi untuk sedikit lagi menuju puncak.. tetapi dengan mengumpulkan keberanian dan tekad yang kuat, akhirnya saya pun bisa sampai di puncak. Subhanallah walhamdulillah.. tiada kata yang mampu melukiskan kekaguman saya terhadap keagungan Tuhan atas keindahan alam dari puncak Gunung Batu..







Tetapi ada sedikit yang mengganggu.
Pertama, sampah botol air kemasan yang banyak berserakan dimana-mana akibat dari para pendaki yang tidak bertanggungjawab.
Kedua, hewan yang menyerupai lebah banyak berterbangan di atas puncak Gunung Batu ini, jari tangan saya pun sempat tersengat hewan tersebut dan rasanya sakit luar biasa.. tetapi rasa sakit sengatan lebah itu terobati dengan pemandangan alam yang sangat indah siang itu..


Foto kang Ibnu yang tubuhnya disengat lebah-lebah gunung Batu.

tapi sayangnya langit agak mendung ketika kami tiba di puncak, kami pun memutuskan untuk tidak berlama-lama disana karena khawatir hujan dan sengatan lebah yang semakin banyak.. buat kawan-kawan yang mau kesini, saran dari saya gunakan pakaian lengan panjang dan penutup kepala supaya tidak disengat oleh hewan-hewan itu yaa..
Dan terakhir, pesan saya untuk para travelers dimanapun kalian berada:

Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.

Happy mountaineering!


   


Kamis, 23 April 2015

Aksi Blusukan Mengajar Forum Peduli Pendidikan Bogor di Kampung Legok Nyenang

Taukah kamu bahwa di Bogor tercinta ini terdapat Forum Peduli Pendidikan (Forpen)?



Forum Peduli Pendidikan Bogor adalah kumpulan dari berbagai komunitas peduli pendidikan yang ada di kota dan kabupaten Bogor. Salah satu program yang diusung oleh Forpen adalah Aksi Blusukan Mengajar. Lalu apa itu blusukan mengajar kakak?

Aksi blusukan mengajar merupakan kegiatan belajar mengajar di wilayah pedalaman yang ada di Bogor, Lokasi yang kami jadikan sasaran aksi ini adalah wilayah yang memang masih kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat dari aspek pendidikan, ekonomi dan pembangunan. Nah tema blusukan mengajar kuartal pertama (21-22 Maret 2015) adalah "Jemari Kawan (Jejak Mencari Kawan)".


Pengabdian masyarakat yang paling setia adalah ia yang memahami hakikat berkawan.
Hari itu, 21 Maret 2015 pukul 04.30 saya sudah bangun pagi. Suatu hal yang cukup jarang dilakukan di liburan akhir pekan. Tetapi, karena hari itu adalah hari yang sangat spesial jadi saya harus bersemangat untuk bangun pagi. Yaa, saya harus berangkat ke wilayah Dramaga untuk berkumpul bersama seluruh relawan komunitas peduli pendidikan se-kota dan kabupaten Bogor dan selanjutnya melakukan perjalanan bersama menuju lokasi Jemari Kawan.

Saya memulai perjalanan dengan naik "si hijau" Bogor jurusan Baranangsiang - Laladon. Dan setibanya di Laladon saya dijemput oleh Kang Ridwan (UrbanSakola) untuk menuju meeting point yaitu di parkiran BNI IPB Dramaga Bogor.
Setibanya disana, ternyata sudah banyak kawan-kawan dari berbagai komunitas peduli pendidikan yang berkumpul. Senang sekali rasanya bisa berjumpa dengan mereka, menambah kawan baru, pengalaman baru, cerita baru dan tentunya memperpanjang tali silaturahmi melalui Jemari Kawan ini.
Setelah seluruh relawan berkumpul, kami terlebih dahulu mengadakan briefing singkat untuk teknis kegiatan di lokasi blusukan mngajar. Nah, saya diamanahi masuk tim sapa-sapa yang diketuai oleh Teh Indri Guli (Berkawan Indonesia). Tugas tim sapa-sapa ini adalah

1. Melakukan pendekatan kepada warga tentang maksud dan tujuan diadakannya aksi blusukan mengajar
2. Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan dan adat istiadat yang berlaku.
3. Mengumpulkan informasi tentang jenjang pendidikan mayoritas warga sampai pada tingkat apa.
4.Mengarahkan warga agar turut berpartisipasi dalam seluruh program kegiatan Jemari Kawan.

Teh Indri Guli sedang memberikan arahan untuk tim sapa-sapa.
Setelah briefing selesai, kami pun bergegas menuju lokasi. Sebelum memulai perjalanan kami berdoa dan meneriakkan kata semangat. hahaha...
Ketua Forpen Kang Erwin (Sakola Alit) menginstruksikan untuk bersiap (baju merah)

Keceriaan Kang Rozza (PuzzleSummit) dan Kang Burhan saat di perjalanan menaiki mobil pick up.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, melewati sawah, perumahan warga, kolam pemandian, jalan yang rusak akhirnya kami pun tiba di lokasi tujuan, yaitu Kp. Legok Nyenang Ds. Gunung Bunder I Kec. Pamijahan Kab. Bogor. yeyeyeyeyeyeye... :D

Seluruh relawan tiba di lokasi blusukan mengajar, Kp. Legok Nyenang Ds. Gunung Bunder Kec. Pamijahan Kab. Bogor,

Antusiasme adik-adik Desa Gunung Bunder I ketika kakak-kakak relawan Forpen tiba.
Selain mengadakan kegiatan belajar mengajar, berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman kepada adik-adik Desa Gunung Bunder, kami juga mengadakan beberapa kegiatan lainnya agar seluruh warga di desa ini dapat merasakan manfaat dari keberadaan kami. Kegiatan tersebut berupa demo masak bagi kaum wanita, pemutaran film anak, dongeng anak, ngaliwet bersama pemuda dan tradisional games.

Ngaliwet bersama pemuda dan bapak-bapak Desa Gunung Bunder.
Ngaliwet merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang hanya ada di tatar Sunda. Ngaliwet artinya memasak nasi liwet yaitu nasi yang hanya ditanak sekali tanpa dikukus lagi  ndicampur dengan rempah-rempah yang membuat nasi lebih beraroma dan enak.

Cara memasak nasi liwet kelihatannya mudah, tetapi dibutuhkan keahlian dan ketelitian yang luar biasa. Karena hanya dimasak satu kali. maka takaran air yang digunakan harus tepat. Jika air terlalu sedikit maka nasi akan menjadi setengah matang, sebaliknya jika air terlalu banyak maka nasi akan menjadi bubur. Bagaimana? susah-susah gampang yaa... :D

Cara memasak seperti ini pada awalnya dipakai masyarakat Sunda untuk mengefektifkan waktu dalam memasak. Biasanya nasi liwet dimasak pada saat istirahat bekerja di sawah, hutan atau perjalanan. Nasi liwet dimasak dengan menggunakan tungku atau kayu bakar. Tetapi di era modern sekarang ini, dimasak dengan kompor menjadi pilihan agar nasi liwet bisa cepat matang.

Sambal, lalapan dan ikan asin merupakan pelengkap yang nikmat saat menyantap nasi liwet. Cara penyajiannya pun unik, nasi liwet yang sudah matang, lauk, lalapan dan sambal dibagikan secara merata diatas daun pisang yang lebar. Kemudian orang-orang duduk berkeliling untuk memakannya.
Namun menurut salah seorang karuhun Sunda, cara makan seperti ini bukan termasuk budaya ngaliwet. Ngaliwet hanya sebatas sampai nasi matang saja, adapun cara makan yang seperti ini disebut pabancakan. Walaupun bukan termasuk rangkaian budaya ngaliwet, namun cara makan seperti ini sudah hampir pasti selalu mengiringi acara ngaliwet. Terlepas dari rangkaian acara atau bukan, cara makan seperti ini dapat mempererat tali silaturahmi dan kekeluargaan.


Salahsatu permainan tradisional Jawa Barat yaitu sondah atau dalam bahasa Jawa disebut engklek, 
Permainan tradisional lompat tali yang terbuat dari karet gelang.

Daaaaaaaannnnnnn...
inilah tim Jemari Kawan yang sangat luarrrrr biasaaaaaa...
prok... prok... prok...
sukses untuk blusukan mengajar berikutnya kakak... :D